BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Sunday, December 26, 2010

Sin City

Jakarta, 26 Desember 2010

                I would never like this Sin City.
Rutinitas yang sama setiap pagi baru saja dimulai. Rutinitas yang tidak bisa dibilang menarik apalagi menyenangkan berteman pagi yang jarang absen dari daftar suram. Bagaimana tidak, udara segar yang seharusnya menari pada pagi buta tak pernah menyusupi rongga hidung. Tampaknya dia sudah bermain mesra dengan kepulan asap kendaraan yang semakin hari semakin pekat serta bau limbah pabrik yang kian menyengat. Matahari pun tidak kuasa lagi menyombongkan diri. Pion-pion polusi serempak membangun benteng kokoh untuk menghalangi sinarnya membelai bumi. Langit biru turut terbenam jauh di sana. Kicauan burung tak pernah tertangkap telinga. Barangkali burung-burung telah enggan mencicit karena tidak akan ada yang mendengar mereka. Atau mungkin suara mereka kalah telak dari irama merdu klakson mobil. Alhasil, pagi yang suram nan sumpek.
                Masih jalan yang sama, dengan suasana yang sama, dan orang-orang yang sama. Penjual gorengan yang sama, office boy yang sama, penjaga loket yang sama, dan beberapa penumpang bus yang sama. Nampaknya penjaga loket sudah menyobekkan selembar tiket untukku sejak dia melihatku di kejauhan. Pada jam-jam itu halte bus sudah dipenuhi kurang lebih 15 kepala. Seperti pagi-pagi sebelumnya, seorang laki-laki setengah tua sedang duduk di bangku yang memang disediakan di pojok halte. Masih dengan tas kain merahnya yang senantiasa dia peluk, dia curahkan seluruh perhatiannya ke arah datangnya bus. Tidak menoleh ke mana-mana lagi. Ketika bus datang, kelima belas kepala tadi, tidak terkecuali bapak pembawa tas merah, langsung menyerbu pintu halte. Layaknya domba yang digiring anjing penggembala. Dan sedihnya, aku termasuk salah satu domba itu. Aiiihh…
                Bosan mata ini melihat plang merah yang tertempel manis di setiap koridor halte. Tulisan putih tergurat di tengahnya membawa pesan mulia kepada para penghuni kota ini untuk dengan tulus menjaga kebersihan kota huniannya. Warna merah yang usang dengan tulisan putih yang mencoklat akibat debu menandakan plang merah itu sudah cukup berumur. Sepertinya dia hanya menjadi hiasan tua belaka. Yah believe it or not. Jika memang tulisan sederhana pada plang merah itu dapat dimengerti oleh otak manusia di sini, bagaimana bisa sungai-sungai kota ini berwarna hitam menggenang tak mengalir. Percikan ludah menghiasi setiap ruas jalan. Parahnya lagi ketika suatu waktu kudapati seorang wanita muda, masih sangat muda, dengan polosnya meludah di dalam bus. Aku akan maklum jika wanita itu sudah berumur puluhan tahun. Masa ketika seseorang harus kehilangan sebagian akal sehatnya lantaran saraf otak yang sudah tidak bisa bekerja dengan baik. Tapi wanita muda ini masih sangat jelas memiliki saraf yang sehat. Tak bisa kubayangkan apa yang sebenarnya ada di tempurung kepalanya. Yah tidak tahu lagi kalau memang sarafnya sudah membusuk. Terkadang pula aku harus terpeleset oleh plastik bekas bungkusan siomay yang entah terbuang atau dengan sengaja dibuang di koridor halte. Semakin sedih ketika melihat tempat sampah bertengger gagah sekitar dua meter dari situ. Luar biasa bukan.
                Benar-benar Sin City.
By,

Cisk

0 comments: