(*blank page, because i feel so empty)
Thursday, October 21, 2010
Thursday, October 14, 2010
Untitled
Tidak tahu sedang berdiri di mana
Tidak tahu akan melangkah ke mana
Tidak tahu akan kembali ke mana
Stagnan...
Jengah untuk berharap
Pun enggan untuk terlelap
Karena memang semua telah lenyap
Deadlock...
Hanya mengandalkan irama nadi
Karena saraf otak tak mau lagi
Bagitu pula hati yang hampir mati
Tinggal lah sejenak
Dan tampar aku dengan telak
Lalu maukah kau membawaku pulang?
Tanpa pedulikan bahwa aku seorang jalang
Posted by Bualan Belaka at 11:26 PM 0 comments
Thursday, October 7, 2010
Terampas
Untuk apa kau rampas mereka dari pangkuan ibu?
Banggakah kau saat mereka tertunduk layu dalam vas bunga di kamarmu?
Bukankah lebih jelita jika menikmatinya dalam pelukan alam?
Saat batang dan akarnya masih terlekat erat pada tanah hitam
Janganlah sayang...
Jangan kau petik mereka dengan jarimu yang cantik
Atau air mata mereka tidak akan berhenti menitik
Sungguh mereka ingin hidup, sama sepertimu
Sejauh ini mereka sudah bertahan tanpa sentuhanmu
Tanpa sentuhan siapapun
Namun dengan cara apapun
Seandainya ada kesempatan untuk berbicara
Dengar rengekan lirih mereka
Yang mereka minta hanya kesediaanmu untuk segera enyah
Karena mereka resah
Sungguh sayang...
Kau tidak berhak atas mereka
Bungaku yang malang
Posted by Bualan Belaka at 2:17 AM 0 comments
Saturday, October 2, 2010
Bulanku Terluka
Pour Ma Lune,
Bangku-bangku itu masih kosong ketika kami datang. Kami memilih dua bangku di pojok balkon. Aku duduk berhadapan dengannya dipisahkan oleh sebuah meja persegi berukuran sekitar 1 m2. Secangkir cappuchino viena dan segelas freshmilk menemani kami malam itu.
Aku tahu telah terjadi sesuatu padanya. Sendu wajahnya mencoba bersembunyi di balik balutan kemeja putih dan jeans abu-abu yang dia kenakan. Keserasian balutan dua jenis kain yang seharusnya membuatnya tampak lebih berseri daripada bersedih, tapi tidak berhasil padaku. Tetap saja aku masih bisa meyimak jelas luka yang saat ini menganga lebar. Luka yang masih basah sehingga aku bisa menciumi anyir aromanya. Sengaja aku diam, menunggunya memuntahkan kata pertama yang entah sejak kapan diredamnya. Beberapa menit berlalu, belum juga dia ungkapkan. Kami justru terlibat dalam topik tidak penting yang aku tahu bukan itu inti kami berada di sini.
Menit-menit melewati kami kembali. Nihil. Aku tidak tahan. Aku ajukan permohonan sederhana padanya. Memintanya sedikit berceloteh tentang dia yang menurutnya adalah makhluk sempurna, dia yang menjadi penghuni palung rindunya, dia yang mampu menutup jalur logikanya, dia yang menjadi pemilik seluruh kerelaannya, dia yang didambakan menjadi masa depannya, dia adalah dia yang dicintainya teramat dalam dan apa adanya.
Kata demi kata dilepaskannya dengan rapi dan runtut bersama aroma Djarum Super dari mulutnya. Semua yang selama tiga hari belakangan ini membuatnya jengah, menyita tidurnya, bahkan menyusupi alam mimpinya, terlepas begitu lancar. Aku berusaha menyimak dengan seksama agar tak secuil pun penggalan ceritanya lolos dariku. Menyelaminya lebih dalam sehingga aku pun ikut merasakan yang dia rasakan.
Pilu, teramat pilu. Ngilu, teramat ngilu. Sedih, teramat sedih. Perih, teramat perih. Sekali lagi dia harus menelan pil pahit, teramat pahit. Sekali lagi, lebih pahit. Apa yang dicurahkannya malam ini cukup pula merajamku.
Dia tertawa, terbahak malah. Tapi hatiku terlalu sakit untuk ikut tertawa bersamanya. Sakit karena melihatnya berusaha keras membuat topeng untuk dirinya sendiri yang justru tampak konyol bagiku. Dadaku sesak melihatnya tertawa tapi tak benar-benar bahagia. Aku menatapnya lekat-lekat, meludahi kerongkonganku yang nyeri karena baru saja tercekik. I’m not blind, Fuckin’ Idiot—aku memaki dalam hati.
Saat itu aku berharap angin malam segera menyapu bersih getir kisahnya. Membawanya jauh ke atas hingga akhirnya terbenam dalam langit gelap. Karena aku bingung harus berkata apa dan harus berlaku bagaimana. Aku masih merasakan apa yang dia rasakan, walau aku tahu tak sesempurna yang dia rasakan.
Dunianya seakan runtuh untuk kesekian kalinya. Beberapa kali dia bertanya, entah bertanya pada siapa, “Kenapa harus aku?” Waktu yang sudah dialokasikannya dengan rinci, kini berserakan kembali. Larik-larik cahaya kehidupan yang baru saja dinikmatinya mulai meredup. Sebongkah asa yang beberapa saat mengindahkan dunianya tinggal secercah.
Dia mulai melantur sesuatu yang sangat tidak mungkin terjadi, namun sangat besar harapannya agar semua itu benar-benar terjadi. Tentang kesempatan bertatap muka langsung dengan Tuhan—you might have been insane, Boy. Wake up!—hanya agar dia bisa meminta sesuatu yang menurutku sangat tidak perlu dia minta. Jika aku Tuhannya—i might also have been insane. Please, forgive me God!—tidak akan pernah kukabulkan, sekalipun lututnya membusuk karena terlalu lama berlutut di hadapanku, atau kedua matanya membengkak karena terlalu banyak mengucurkan buliran air asin. Tidak akan kukabulkan. Tidak akan pernah.
Atau jika ternyata aku yang mendapat kesempatan berhadapan langsung dengan Tuhan—i would never be granted a pardon—aku akan meminta-Nya untuk memutar waktu ke belakang sedikit saja. Hanya sampai pada saat dia menemui wanitanya sekitar empat atau lima hari yang lalu. Saat dia menjadi pendengar setia atas kesaksian wanitanya yang pada akhirnya hanya menorehkan luka. Kemudian aku akan meminta Tuhan untuk mengubah sedikit skenario drama-Nya yang diperankan sepasang ciptaan-Nya itu. Entah seperti apa skenario baru yang akan dimainkan ulang, yang jelas pada akhir ceritanya, dia aman dalam ketidaktahuan. Benar saja kata Dewi Lestari, ketidaktahuan memang lebih baik daripada kesedihan. Jauh lebih baik dari apapun.
Mungkin saat wanitanya hendak menuturkan pengakuan, tiba-tiba seekor lebah menyengat telinganya dan membuatnya tuli beberapa hari, sehingga dia tidak bisa mendengar semua yang dikatakan wanitanya. Selama beberapa hari. Atau mungkin sesaat sebelum itu, mereka tertawa melihat seekor kucing beradu tampang bengis dengan seekor tikus buruannya. Mereka tertawa terpingkal-pingkal sampai kepala wanitanya terbentur keras di dinding dan mendadak amnesia. Atau mungkin-mungkin yang lain. Tuhan bisa melakukan segalanya.
Lamat-lamat kesunyian kembali membekap. Kami terjebak dalam momen yang stagnan. Aku pun mengutuki diriku yang tidak mampu berkata-kata. “Tenang saja,” hanya itu yang keluar dari mulut bodohku. Sedikit mengubah kata Cold Play, “Just because you’re losing, doesn’t mean you’re lost, doesn’t mean you’ll stop, doesn’t mean you will cross. Just because you’re hurting, doesn’t mean you’re hurt, doesn’t mean you didn’t get what you deserve. No better and no worse...” Aku masih meyakini konsepsi sacrifice and result yang berlaku di setiap sendi kehidupan. Jalan yang sangat sulit ditapaki karena begitu terjal dan berjubun rintangan, di ujungnya tersedia pesona alam yang indah, benar-benar indah—kenangan Jonggring mungkin bisa menjadi salah satu bukti. (Cisk)
Posted by Bualan Belaka at 11:06 PM 0 comments
Subscribe to:
Comments (Atom)