Bedug itu kembali ditabuh. Terirama sebagai pengiring alunan lirik takbir. Bisunya alam menyambut gembira. Langit yang beberapa hari ini berselimut mendung, kini diramaikan gugusan bintang. Menjadikan langit sebagai lantai dansa dan mulai menari di atasnya. Sementara angin berhembus tenang. Di lantai yang berbeda, puluhan obor telah menyala. Membentuk barisan dan mulai berarak di sepanjang jalan. Sesekali suara kembang api berdentum di udara seraya memercikkan butiran api kecil. Semua itu terbingkai dalam figura yang cantik. Menciptakan nada yang menghadirkan kelegaan dalam hati. Entah lega dari apa.
Tuntas sudah, setelah 30 hari menjalankan perintah keempat, puasa. Selama itu para muslim berupaya menahan segala nafsu. Lapar, dahaga, amarah, serta nafsu birahi, dihindari mulai dari adzan subuh sampai maghrib. Kini tibalah hari itu. Hari yang kebanyakan orang menyebutnya “hari kemenangan”, entah menang dari apa.
Sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Masjid di seluruh penjuru dunia penuh sesak. Berjejal manusia mendatanginya. Begitu pula dengan masjid itu, tampak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Kesunyiannya takluk pada ratusan kepala yang saat ini menghuninya. Walau ruaangan masjid itu sudah tak muat lagi, masih saja banyak yang berdatangan dari segala arah. Layaknya besi berlomba mendekati kutub magnet. Sampai akhirnya, lautan manusia itu tumpah ke jalanan.
Mereka telah menempati posisinya masing-masing. Duduk bersimpuh sambil terus mendengungkan takbir. Terus berulang-ulang sampai terdengar instruksi sholat Idul Fitri akan dilaksanakan. Mereka pun berdiri dan mulai melakukan gerakan-gerakan indah dengan serempak. Kain putih yang terjuntai dari kepala sampai telapak kaki, tampak anggun melekat di tubuh para wanita. Sedangkan sepasang sarung dan peci, menghadirkan aura damai pada tubuh pria.
Seusai ritual itu, mereka kembali ke keluarga masing-masing. Dimulailah adegan salam-salaman. Keluarga, teman, dan para tetangga, saling berjabat tangan. Terkadang dibarengi peluk dan cium seraya berkata, “Minal’aidin wal faidzin, maafkan semua kesalahanku ya!” Indahnya kebersamaan itu.
Sungguh sayang momen itu hanya bisa dirasakan setahun sekali. Muncul sepintas dalam perjalanan hidup. Layaknya tokoh figuran dalam putaran film panjang. Telah menjadi pakem bagi benak, pengeratan tali silaturahmi lebih tepat pada saat Idul Fitri. Tak jarang terdengar, “Maaf-maafannya besok saja ya kalau sudah lebaran,” atau “Silaturahminya besok saja kalau sudah lebaran.” Entah hanya guyonan atau pernyataan sungguh-sungguh.
Ketika semua berkumpul dalam wadah keluarga, perselisihan antara mereka seakan sirna. Terbungkus dalam kantung kebahagiaan untuk sementara waktu. Hanya sementara, karena hari ini sebatas ritual tahunan. Mungkin lusa atau beberapa hari kemudian, keadaan kembali seperti semula.
Ketulusan yang sangat dinanti tak kunjung datang. Tenggelam jauh di dasar kepura-puraan. Jabat tangan hanya sebatas mengulurkan tangan. Senyum pun hanyalah sebuah ukiran di wajah. Datang kemudian berlalu, karena itu hanya untuk perayaan belaka.
Tak bisa dibantah, memang ada di antara mereka yang berangkat dari sebuah ketulusan. Uluran tangan dan senyum yang tersungging berpangkal dari hati. Keinginan untuk saling memaafkan jauh melebihi keinginan semata. Mungkin mereka lah yang benar-benar merasakan nikmatnya kebersamaan. Dengan penuh harapan, kebersamaan itu tak lekang dimakan waktu bahkan semakin erat.
Namun, ada kepedihan di balik itu semua. Sadar atau tidak, masih banyak saudara-saudara kita yang belum sempat merasakan manisnya kebersamaan. Saudara kita yang menghabiskan malam-malamnya di emperan toko, saudara kita yang menyambung nyawa dengan mengais sampah, saudara kita yang berumah gerbong kereta api, dan masih banyak lagi saudara kita yang jauh dari kehidupan layak. Mungkin mereka jauh lebih bahagia dari kita, karena telah merasa cukup dengan kumpul bersama orang terdekat. Tapi pernahkah kita berkeinginan mengunjungi mereka setiap lebaran? Bukankah mereka juga keluarga kita?
Kita rela membeli tiket pesawat demi sungkem ke sanak saudara yang beratus-ratus kilometer jaraknya. Tapi enggan melangkah ke arah mereka di kota yang sama dengan kita. Kita hiasi tubuh kita dengan baju baru. Sedangkan mereka masih menyandang baju yang sama dengan tiga hari lalu. Kita penuhi meja ruang tamu kita dengan berbagai macam kue kering. Sedangkan mereka belum sempat menelan sesuap nasi dari semalam. Sepatutnya kita ulurkan tangan terlebih dahulu sebelum mereka. Dengan membawa segenap maaf dan berharap mereka menerimanya.
Sebenarnya kesalahan kita pada mereka jauh lebih besar dari kesalahan kita pada tetangga dekat. Kita bersalah karena membiarkan mereka merasakan pahit kehidupan. Membiarkan air mata mereka mengalir lantaran tak mampu berobat saat sakit. Membiarkan tubuh mereka bersisa tulang dan kulit karena beberapa hari tak menyentuh nasi. Membiarkan mereka basah kuyub saat hujan karena tak ada tempat tinggal.
Adakah sedikit saja ruang di otak dan hati kita untuk memikirkan mereka? Tidak. Hari ini, hari yang di setiap kalender bertuliskan “Idul Fitri”, hanya sebagai ajang kumpul orang-orang “beratribut” keluarga, teman dekat, atau tetangga dekat. Pernahkah kita bertanya, “Bersama siapa mereka menikmati hari raya ini?” Tak inginkah duduk di sampingnya untuk sekedar minum teh atau mencicipi kue lebaran bersama?