BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Thursday, December 10, 2009

Hey Bung, Coba Turun ke Jalan

Saat regulator tergila-gila pada eksistensi, hakikat pendidikan perlahan sirna. Hasrat unjuk diri mengubur amanah “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Dogma indah itu terdistorsi oleh raut hedonisme. Kampus megah ini pun tak mampu mengelak dari rayuannya.
Seperangkat kebijakan terangkai untuk mewujudkan itu semua. Renik-reniknya menguraikan bulir kekecewaan yang ternyata tak sepele. Tak jarang ketika lafalnya tersebar ke seantero kampus, menuai banyak protes yang pada akhirnya selalu menjadi angin lalu.
Pelan tapi pasti, satu per satu deretan “rencana mengecewakan” itu tertunaikan dengan mulus. Gerbang-gerbang pendaftaran yang baru dibuka mensyaratkan pembiayaan tinggi. Dengan alasan kemandirian, bandrol mengenyam bangku kuliah membumbung. Refleksi itu mengebiri impian anak bangsa untuk merasakan kehidupan kampus lantaran ketidakmampuan finansial. Raungan harapan mengejar cita-cita setinggi langit pupus sudah.
Buldoser-buldoser didatangkan demi pembangunan fisik. Kemahsyuran sarana diagungkan untuk meraih penampilan yang sempurna. Tak dapat dipungkiri, derunya menitikkan ngilu tak terperi. Para pencari nafkah harus merelakan lahannya. Para penguasa tak ragu-ragu membinasakannya untuk sebuah kemewahan. Mereka yang telah lama menggantungkan hidupnya pada hasil penjualan di tengah kampus, terpaksa berlapang dada lantaran pendapatannya per hari menurun.
Kini, gedung-gedung megah siap berdiri dengan angkuhnya. Ruas-ruas jalan pun turut dipoles seeksklusif mungkin, menambah kesan legitnya “kampus gedongan”. Gegap langkahnya pembangunan-pembangunan itu menaburkan hiruk pikuk yang semakin lama semakin menyesakkan.
Rekaman fenomena itu disadari beberapa pihak yang melihatnya sebagai gaung komersialisasi. Alunannya menjadi momok yang sangat berbahaya bagi kelangsungan pendidikan bangsa ini. Terjadinya segregasi sosial patut menjadi perhatian utama, karena akan berujung pada disintegrasi bangsa.
Berjibun kritik pun diserukan kepada mereka yang duduk di belakang meja pengatur institusi pendidikan ini. Arak-arakan demonstran tak jarang memenuhi latar hijau depan gedung rektorat yang kokoh itu. Lembaran pemberitaan gencar diterbitkan. Pedas memang. Namun, itu semua dilayangkan semata-mata untuk menggiring kampus ini ke suatu tampuk yang mulia. Sehingga menjadi kampus yang acuh pada nasib pengenyamnya, bukan sekedar memburu kemewahan.
Sayang, kritik yang sebenarnya membangun itu tak mendapat ruang di hati para “atasan”. Dengungnya dinilai sebagai batu sandungan, hanya menghambat rancana-rencana mereka yang telah tersusun “apik”. Tentu saja dengan kekuatan legitimasnya, begitu mudah mereka menendangnya. Cukup dengan merumuskan peraturan baru untuk membungkam segala bentuk protes.
Satu demi satu, carik peredam protes itu diciptakan. Belum lama ini, iming-iming Bantuan Khusus Mahasiswa (BKM) diderukan bagi para aktivis yang memang dari merekalah kritik banyak berasal. Besaran nominalnya mencoba menarik simpati mereka. Bagai orang tua membujuk anaknya dengan menyumpalkan uang agar tak membangkang lagi.
Aktivitas mahasiswa pun pelan-pelan dibatasi. Intervensi jam malam mulai diberlakukan, menghimpit ruang dialektik yang mestinya selalu ada kapan dan di mana pun. Hak mahasiswa untuk terus mengapresiasikan pemikirannya tersumbat ruang dan waktu yang seharusnya tak pernah menjadi masalah. Tentu saja hal ini akan mempersempit kemungkinan lahirnya kritik yang selalu dianggap “bantahan”.
Telah menjadi rahasia umum, ada mahasiswa yang menjadi corong penguasa. Bak kaca spion pada sisi kanan dan kiri sepeda motor. Mereka rela menyerahkan harga diri kepada para pemegang kekuasaan sebagai penyampai informasi arah gerak mahasiswa. Tak sadar sebenarnya yang mereka perangi adalah kawan seperjuangan.
                Jeratan peraturan para penguasa itu lambat laun akan membunuh karakter mahasiswa sendiri. Sikap kritis akan berubah apatis, karena tak lagi menemukan wadah untuk menyalurkannya. Regulator pun leluasa melebarkan sayap.
                Sangat menakutkan membayangkan hal itu terjadi. Para pencetus kebijakan bebas mengerakkan jari-jarinya tanpa ada pengontrolnya. Sedangkan mahasiswa hanya akan menjadi budak yang harus tunduk pada tuannya.
                Idealisme dan jati diri mahasiswa mendapat ujian berat. Beragam gempuran dicoba untuk menumbangkan jiwa penggebrak yang melekat pada diri mereka, berupaya menyurutkan luapan amarah karena kekecewaan yang mendalam. Masihkah mereka tegak berdiri untuk memperjuangkan hak yang tertindas, memegang teguh hakikat mahasiswa? Harus, tak ada tawaran. Seperti yang sering diserukan oleh Widji Tukul, “Apabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan, dituduh subversif, dan mengganggu keamanan, maka hanya ada satu kata, LAWAN!!!”

Hey Bung yang di atas sana coba turun ke jalan, liat-liat situasi apa yang terjadi
Hey Bung yang di balik meja coba turun ke jalan, tunjukkan rasa perhatian
Hey Bung di dalam gedung megah coba turun ke jalan, liat-liat kondisi biar pasti
Hey Bung yang berkuasa coba turun ke jalan, berikan rasa kelembutan
(Lyric: Hey Bung by Slank)
                                                                                                            

Monday, September 21, 2009

Pahit Dalam Manisnya Kebersamaan

Bedug itu kembali ditabuh. Terirama sebagai pengiring alunan lirik takbir. Bisunya alam menyambut gembira. Langit yang beberapa hari ini berselimut mendung, kini diramaikan gugusan bintang. Menjadikan langit sebagai lantai dansa dan mulai menari di atasnya. Sementara angin berhembus tenang. Di lantai yang berbeda, puluhan obor telah menyala. Membentuk barisan dan mulai berarak di sepanjang jalan. Sesekali suara kembang api berdentum di udara seraya memercikkan butiran api kecil. Semua itu terbingkai dalam figura yang cantik. Menciptakan nada yang menghadirkan kelegaan dalam hati. Entah lega dari apa.
Tuntas sudah, setelah 30 hari menjalankan perintah keempat, puasa. Selama itu para muslim berupaya menahan segala nafsu. Lapar, dahaga, amarah, serta nafsu birahi, dihindari mulai dari adzan subuh sampai maghrib. Kini tibalah hari itu. Hari yang kebanyakan orang menyebutnya “hari kemenangan”, entah menang dari apa.
Sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Masjid di seluruh penjuru dunia penuh sesak. Berjejal manusia mendatanginya. Begitu pula dengan masjid itu, tampak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Kesunyiannya takluk pada ratusan kepala yang saat ini menghuninya. Walau ruaangan masjid itu sudah tak muat lagi, masih saja banyak yang berdatangan dari segala arah. Layaknya besi berlomba mendekati kutub magnet. Sampai akhirnya, lautan manusia itu tumpah ke jalanan.
Mereka telah menempati posisinya masing-masing. Duduk bersimpuh sambil terus mendengungkan takbir. Terus berulang-ulang sampai terdengar instruksi sholat Idul Fitri akan dilaksanakan. Mereka pun berdiri dan mulai melakukan gerakan-gerakan indah dengan serempak. Kain putih yang terjuntai dari kepala sampai telapak kaki, tampak anggun melekat di tubuh para wanita. Sedangkan sepasang sarung dan peci, menghadirkan aura damai pada tubuh pria.
Seusai ritual itu, mereka kembali ke keluarga masing-masing. Dimulailah adegan salam-salaman. Keluarga, teman, dan para tetangga, saling berjabat tangan. Terkadang dibarengi peluk dan cium seraya berkata, “Minal’aidin wal faidzin, maafkan semua kesalahanku ya!” Indahnya kebersamaan itu.
Sungguh sayang momen itu hanya bisa dirasakan setahun sekali. Muncul sepintas dalam perjalanan hidup. Layaknya tokoh figuran dalam putaran film panjang. Telah menjadi pakem bagi benak, pengeratan tali silaturahmi lebih tepat pada saat Idul Fitri. Tak jarang terdengar, “Maaf-maafannya besok saja ya kalau sudah lebaran,” atau “Silaturahminya besok saja kalau sudah lebaran.” Entah hanya guyonan atau pernyataan sungguh-sungguh.
Ketika semua berkumpul dalam wadah keluarga, perselisihan antara mereka seakan sirna. Terbungkus dalam kantung kebahagiaan untuk sementara waktu. Hanya sementara, karena hari ini sebatas ritual tahunan. Mungkin lusa atau beberapa hari kemudian, keadaan kembali seperti semula.
Ketulusan yang sangat dinanti tak kunjung datang. Tenggelam jauh di dasar kepura-puraan. Jabat tangan hanya sebatas mengulurkan tangan. Senyum pun hanyalah sebuah ukiran di wajah. Datang kemudian berlalu, karena itu hanya untuk perayaan belaka.
Tak bisa dibantah, memang ada di antara mereka yang berangkat dari sebuah ketulusan. Uluran tangan dan senyum yang tersungging berpangkal dari hati. Keinginan untuk saling memaafkan jauh melebihi keinginan semata. Mungkin mereka lah yang benar-benar merasakan nikmatnya kebersamaan. Dengan penuh harapan, kebersamaan itu tak lekang dimakan waktu bahkan semakin erat.
Namun, ada kepedihan di balik itu semua. Sadar atau tidak, masih banyak saudara-saudara kita yang belum sempat merasakan manisnya kebersamaan. Saudara kita yang menghabiskan malam-malamnya di emperan toko, saudara kita yang menyambung nyawa dengan mengais sampah, saudara kita yang berumah gerbong kereta api, dan masih banyak lagi saudara kita yang jauh dari kehidupan layak. Mungkin mereka jauh lebih bahagia dari kita, karena telah merasa cukup dengan kumpul bersama orang terdekat. Tapi pernahkah kita berkeinginan mengunjungi mereka setiap lebaran? Bukankah mereka juga keluarga kita?
Kita rela membeli tiket pesawat demi sungkem ke sanak saudara yang beratus-ratus kilometer jaraknya. Tapi enggan melangkah ke arah mereka di kota yang sama dengan kita. Kita hiasi tubuh kita dengan baju baru. Sedangkan mereka masih menyandang baju yang sama dengan tiga hari lalu. Kita penuhi meja ruang tamu kita dengan berbagai macam kue kering. Sedangkan mereka belum sempat menelan sesuap nasi dari semalam. Sepatutnya kita ulurkan tangan terlebih dahulu sebelum mereka. Dengan membawa segenap maaf dan berharap mereka menerimanya.
Sebenarnya kesalahan kita pada mereka jauh lebih besar dari kesalahan kita pada tetangga dekat. Kita bersalah karena membiarkan mereka merasakan pahit kehidupan. Membiarkan air mata mereka mengalir lantaran tak mampu berobat saat sakit. Membiarkan tubuh mereka bersisa tulang dan kulit karena beberapa hari tak menyentuh nasi. Membiarkan mereka basah kuyub saat hujan karena tak ada tempat tinggal.
Adakah sedikit saja ruang di otak dan hati kita untuk memikirkan mereka? Tidak. Hari ini, hari yang di setiap kalender bertuliskan “Idul Fitri”, hanya sebagai ajang kumpul orang-orang “beratribut” keluarga, teman dekat, atau tetangga dekat. Pernahkah kita bertanya, “Bersama siapa mereka menikmati hari raya ini?” Tak inginkah duduk di sampingnya untuk sekedar minum teh atau mencicipi kue lebaran bersama?